Simbol Kesantrian dari Sukarno

  • Bagikan
Para santri dalam sebuah perayaan
Para santri dalam sebuah perayaan

U’News.idSimbol Kesantrian dari Sukarno – Sebagai warga negara yang baik, kita tentunya sangat tahu kopiah seperti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut pakaian ketika orang Islam shalat.

Kopiah mulai diidentikkan terhadap umat Islam karena secara etika berpakaian yang baik, Islam merupakan agama dengan cara berpakaian sopan, bahkan ketika melaksanakan ibadah seperti shalat dan sebagainya.

Baca Juga: Soekarno: Sang Proklamator Kemerdekaan, Sering Dipertentangkan (?)

Orang pertama yg mempopulerkan kopiah di Indonesia yaitu presiden pertama RI, Sukarno, menginginkan agar rakyat Indonesia memiliki identitas kebangsaan

Beberapa literatur menyebutkan,  sebelum kopiah menjadi populer,  dikutip dari laman kompasiana.com, penutup kepala pria ini merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga.

Setelah itu Beliau memberikan kepada Sultan Fatah sebagai mahkota dengan sebutan kuluk, lebih kecil dari mahkota sang ayah Brawijaya V sebagai raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Simbol Kesantrian dari Sukarno

Ada yang berpendapat, kopiah merupakan variasi dari Fes dan Thrabusy dari maroko. Adapula menyebut Peci, dibawa oleh Laksamana Cheng Ho.

Peci  memiliki arti khusus yaitu Pe (delapan) dan  Chi (energi). Sejak masa penjajahan, tentara Indonesia sudah mengenakan tudung kepala mirip dengan kopiah.

Jika kopiah memiliki ketinggian rata-rata 9 senti meter, maka dulu, kuluk jauh berbeda karena lebih terlihat semacam mahkota.

Pada kesempatan lain, kopiah sempat menjadi kontroversi antara Indonesia dengan Malaysia yang sama-sama sama-sama mengakui satu barang bernilai ini. Meski pada akhirnya, pengakuan lebih dimiliki oleh Indonesia, beberapa tahun terakhir masih sering terjadi konflik kecil membahas asal kopiah.

Simbol Kesantrian dari Sukarno

Bagaimana dengan “Kopiah sebagai Identitas Santri”? Dalam hal ini tidak ada kontroversi kompleks terkait kopiah, pada kesempatannya saat ini justru disimbolkan pada kaum santri.

Sukarno berhasil membuat sejarah begitu menakjubkan tanpa harus menimbulkan sengketa atau saling merebut pengakuan dari pihak manapun di Negara tercinta ini.

Kopiah sebagai identitas nasional di sinilah kita bangsa Indonesia siapapun itu, dari ras dan agama apapun sudah pasti tidak dilarang untuk mengenakannya.

Baca Juga: 17 November, Simbol Hari Perlawanan Pelajar Internasional

Tidak ada catatan khusus tentang kopiah pada akhirnya apakah kopiah disimbolkan secara permanen terhadap santri. Namun secara garis nasional, kopiah sudah menjadi identitas.

Kita sudah tahu bahwa Sukarno dulunya juga seorang santri. Nah, dengan ini kita tidak perlu lagi untuk menciptakan perdebatan terkait siapa yg patut untuk memakai kopiah ini sendiri.

Sampai sekarang, kopiah menjadi satu-satunya kekayaan budaya, bertahan lama dan masih diminati di berbagai kalangan, baik masyarakat pedalaman, kaum elitis, mahasiswa dan pemerintahan.

Tentunya kita patut menjaga, melestarikan satu kebudayaan ini sebagai bagian kecintaan kita pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terima kasih, semoga bermanfaat

(Af//Yy)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *