Semakin Langka, Inilah Keunikan Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)

  • Bagikan
IMG 20211029 WA0033

Unews.idKura-kura Hutan Sulawesi atau kura-kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle) dalam bahasa latin disebut Leucocephalon yuwonoi tergolong kura-kura langka.

Kura-kura Hutan sulawesi (kura-kura paruh betet) termasuk salah satu dari 7 jenis reptil paling langka di Indonesia.

Bahkan hewan ini termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles-2011 dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition.

Kura-kura Hutan sulawesi yang dipertelakan pada tahun 1995 disebut juga sebagai kura-kura paruh betet, lantaran bentuk mulutnya yang meruncing menyerupai paruh burung betet.

Dalam bahasa Inggris kura-kura hutan sulawesi endemik ini disebut sebagai Sulawesi Forest Turtle. Sedangkan resminya, kura-kura ini mempunyai nama latin Leucocephalon yuwonoi (McCord, Iverson & Boeadi, 1995) bersinonim dengan Geoemyda yuwonoi (McCord, Iverson & Boeadi, 1995) dan Heosemys yuwonoi (McCord, Iverson and Boeadi, 1995).

Semakin Langka, Inilah Keunikan Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)

Dahulu Kura-kura Hutan Sulawesi tergolong dalam genus Heosemys. Namun sejak tahun 2000 dimasukkan dalam genus tunggal Leucocephalon.

Kata ‘yuwonoi’ nama ilmiahnya merujuk pada Frank Yuwono, pertama kali memperoleh spesimen sebagai kura-kura hutan sulawesi pertama di pasar di Gorontalo Sulawesi.

Keunikan Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)

1. Ciri-ciri

Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) berukuran sedang dengan karapas sepanjang 28-31 cm (jantan) dan 20 – 25 cm (betina). Lokasi sebaran terdapat di pulau Sulawesi bagian utara. Sehingga hewan langka ini merupakan hewan endemik pulau Sulawesi, Indonesia dan tidak ditemukan di daerah lain.

Tidak banyak yang diketahui tentang perilaku alami kura-kura hutan sulawesi. Kura-kura hutan sulawesi banyak menghabiskan waktu di hutan dan hanya berpindah ke air ketika malam hari untuk beristirahat dan melakukan perkawinan.

2. Populasi dan Konservasi

Pada tahun 1990-an diperkirakan populasi kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) masih sangat melimpah, namun sayangnya saat ini diperkirakan populasinya di alam liar tidak mencapai 250 ekor.

Ancaman utama populasi kura-kura langka ini adalah perburuan dan perdangan bebas sebagai bahan makanan dan hewan peliharaan.

Pada awal tahun 1990-an, sekitar 2.000 – 3.000 ekor diperkirakan diperdagangkan ke China sebagai bahan makanan. Selain itu kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) juga banyak diekspor ke Eropa dan Amerika sebagai hewan peliharaan.

Selain perburuan, rusaknya habitat akibat kerusakan hutan (penebangan kayu komersial, pertanian skala kecil, dan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit) juga menjadi ancaman bagi kelangsungan populasi kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi).

Hal ini juga diperparah dengan rendahnya tingkat reproduksi kura-kura hutan sulawesi (Sulawesi Forest Turtle). Jumlah populasi yang sedikit dan sifatnya endemik, sang kura-kura paruh betet ini oleh IUCN Red List dikategorikan sebagai spesies Critically Endangered (sangat terancam punah).

The Turtle Conservation Coalition, sebuah koalisi konservasi kura-kura yang terdiri atas berbagai lembaga konservasi seperti IUCN/SSC Tortoise and Freshwater Turtle Specialist Group, Wildlife Conservation Society (WCS), Turtle Survival Alliance (TSA), Conservation International (CI) dan lainnya memasukkan kura-kura hutan sulawesi sebagai salah satu dari 25 kura-kura paling langka dan terancam punah di dunia (The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles) Tahun 2011.

Organisasi perdangan satwa dunia, CITES, juga telah memasukkan kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) dalam daftar CITES Apendix II. Dengan demikian perdagangan internasional kura-kura langka dan endemik Sulawesi tidak diperbolehkan.

Jika berbagai organisasi konservasi dunia menaruh perhatian bagi kelestarian kura-kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle), bagaimana dengan pemerintah Indonesia?

Aneh ya? di Indonesia sendiri Kura-kura Hutan Sulawesi ternyata bukan termasuk satwa yang dilindungi. (rz/yy)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *