Paradoks Hijab, Prilaku Muslimah di Mata Masyarakat dan Tuhan

  • Bagikan
IMG 20211017 085932
ilustrasi hidayatu. com

Unews.id – Paradoks Hijab, Prilaku Muslimah di Mata Masyarakat dan Tuhan. Perkembangan zaman semakin pesat, mengakibatkan polarisasi perubahan yang terjadi di masyarakat termasuk gaya hidup dalam memenuhi kebutuhan eksitensi manusia. Tak terkecuali umat islam itu sendiri, seperti fenomena berpakaian khususnya hijab. Jilbab merupakan suatu produk yang digunakan para kaum muslimah di era 5.0.

Era 5.0 masyarakat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial memanfaatkan inovasi era Revolusi Industri 4.0. Era 5.0 dengan berbagai segmen fenomena gaya hijab baru, menjadi inovasi manusia saat ini sehingga menjadi apresiasi sendiri atas kemajuan ilmu pengetahuan. Kreatifitas desain hijab tampak dari motif yang dituangkan, salah satunya dengan jasa print kain.

Ciri khas dan keunikan motif, menjadi startegi bersaing dalam dunia bisnis. Bagi mulismah untuk dapat menutupi aurat dari sekujur tubuh termasuk ‘’Mahkota Kepala’ yang menjadi perhiasan. Hal yang paling mendasar tujuan dalam berhijab adalah mampu menutup aurat, dimana dalam hal ini juga diperintahkan dalam Al-Qur’an.

Paradoks Hijab, Prilaku Muslimah di Mata Masyarakat dan Tuhan

Hijab sendiri merupakan sebuah produk hasil perkembangan pasar yang dapat memberikan asas kebermanfaatan bagi kaum muslimah dengan bermacam-macam produk, bentuk hingga model di dalamnya, kesempatan lain dapat meraup pasar dari sisi ekonomi. Dari sekian macam model hijab untuk dapat menututup mahkota kepala, kembali dicocokkan dengan kultur daerah masing-masing termasuk di Indonesia.

Baca Juga: Urgensi Pendidikan Islam, Kampus Umum

Tujuan berhijab esensinya tidak hanya sebatas menutup aurat bagi perempuan, melainkan lebih dari itu. Bagaimana mampu untuk dapat melindungi kaum perempuan itu sendiri. Apalagi di abad 21, yang memasuki arus moderenisasi dan menuntut masyarakat untuk dapat berkembang agar mampu menyesuaikan dengan segala perubahan.

Meski demikian, bagi orang yang beragama islam, harus memiliki prinsip tebal dalam mengatur pola hidup dari segala dimensi agar tidak tergerus dengan paradoks zaman. Namun jika dilihat manifestasi penggunaan hijab yang semakin berkembang pesat, terdapat paradoks sendiri diabad milineal. Perintah islam yang terdapat dalam surah al-Azhab : 59 berbunyi “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang mukmin; Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”, hal demikian agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan hanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ayat tersebut cukup jelas mengandung pelajaran penting bagi umat muslim khususnya muslimah perempuan agar dapat mengintitusikan pernintah tersebut semata-mata untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan menutup aurat akan mudah dikenal dan berbeda dari mereka yang lain.

Perbedaan itu tidak hanya terletak pada bagian simbol semata. Dari apa yang digunakan tetap diiringi dengan ilmu pengetahuan, dan apa tujuan menggunakan hijab tersebut yang semata-mata merupakan manifestasi iman terhadap Tuhan dalam mengarungi hidup di dunia.

Baca Juga: Pahami Yuk! Pengertian, Manfaat dan Tujuan Metode Diskusi

Sehingga tidak terbatas menjadi manusia yang mampu bermanifestasi secara simbolik saja melainkan mampu menghadirkan makna dalam manifestasi kehidupan sehari-hari dalam wujud perilaku mereka baik dimensi vertikal maupun horizontal.

Secara vertikal, menjaga hubungan baik dalam pengabdian diri atas ketakwaan terhadap Tuhan baik meliputi perintah maupun larangan. Sedangkan secara horizontal, mampu menjaga keseimbangan ditatanan sosial menjadi bagian pencerah ditengah masyarakat.

Realitanya jika dibandingkan dengan kejayaan Islam kala itu, paradoks penggunaan hijab diabad-21 masih terjadi perubahan akibat perkembangan zaman yang gagal mengiringi dengan moral perilaku manusia dalam mengintitusikan perintah-perintah Tuhan.

Paradoks Hijab Dengan Perilaku Muslimah

Realita yang mudah di jumpai dimasyarakat utamanya kaum muslimah, mereka yang berstatus pelajar dari berbagai tingkatan, utamanya muda-mudi diabad milineal masih banyak dari mereka yang tidak menghayati makna hijab sebenarnya. Contoh kecil paradoks pacaran bagi Muslimah yang berhijab dan selalu diiringi dengan saling pegangan tangan merupakan kontra dalam paradoks dengan simbol yang mereka gunakan.

Tidak lain tujuannya agar terlindung dari fitnah-fitnah yang sangat rentan terjadi. Bahkan semata-mata untuk membumikan perintah-perintah agama menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Selain itu penggunaan hijab tidak diiringi dengan uluran kain sekujur tubuh yang dapat menutup rapat aurat perempuan terutama lekak-lekuk tubuhnya.

Hal tersebut tidak lagi dijalankan sesuai syariat, maka akan memantik gangguan mata para lelaki keranjang dan pria hidung belang. Bahkan hal ini mengakibatkan potensi kemaksiatan terhadap langkah-langkah setan, karena apabila mata tidak ditundukkan, maka akal bahkan kemaluan akan ‘meng iyakan’ kedalam perbuatan yang melanggar agama (Ustad Abdul Somad).

Akibatnya, imajinasi kaum lelaki yang tidak dapat dikontrol karena selalu melihat hal-hal sensitive yang terdapat di tubuh perempuan. Manifestasi dalam penggunaan hijab harus selalu di-ikhtiarkan yang tidak hanya menyeimbangkan simbol agama dalam menutup aurat melainkan diiringi dengan mengikhtiarkan perilaku rohaniah dan jasmaniah yang selalu terdaburkan secara revolusioner sebagai pencerah dalam mengaplikasikan nilai-nilai tauhid.

Hijab yang digunakan tidak akan menjauhkan dengan perintah Tuhan sebaliknya akan mendekatkan dengan perintah Tuhan yang berikhtiar mentaburkan didalamnya.

Itulah penjelasan dan contoh ringkas yang ditemui penulis tentang Paradoks Hijab, Prilaku Muslimah di Mata Masyarakat dan Tuhan abad 21. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan renungan, bahan refleksi buat kita semua. (hi/yy)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *