Merdeka Atas Pilihan? Mahasiswa Baru Tidak Ikut-Ikutan Memilih Organisasi

  • Bagikan
IMG 20211025 055421
Merdeka Atas Pilihan? Mahasiswa Baru Tidak Ikut-Ikutan Memilih Organisasi, Sumber Foto Bandungkita.id

Unews.idMerdeka Atas Pilihan? Mahasiswa Baru Tidak Ikut-Ikutan Memilih Organisasi. Menjadi mahasiswa sangat didamba-dambakan oleh kebanyakan orang. Dari berbagai golongan strata sosial baik golongan atas hingga golongan paling bawah berlomba-lomba untuk dapat menyekolahkan putera-puterinya demi bisa mengenyaman pendidikan tinggi meskipun mereka sebagian besar berasal dari golongan menengah ke bawah bahkan kurang mampu secara ekonomi.

Kendati demikian tidak menjadi alasan bagi ke dua orang tua menyekolahkan anak ke pendidikan lebih lanjut untuk membangun harapan masa depan anak-anak lebih cerah ketimbang orang tuanya. Pada intinya pendidikan merupakan wadah untuk merekontruksi diri manusia menjadi manusia yang luhur, arif, berbudi pekerti dan memiliki pola pikir maju serta dinamis dalam segala perkembangan zaman. Mahasiswa terutama bagi mahasiswa baru ialah salah satu bukti gelar akademis yang disematkan kepada diri mereka sebagai maha-diatas-siswa. Tetapi bukti tersebut tidak cukup apabila maha-diatas-siswa hanya menjadi simbol belaka tanpa rekontruksi pengembangan diri yang diupayakan oleh mahasiswa baru sebagai subyek perubahan.

Karenanya di dalam kampus tanggung jawab moral lebih berat ketika menyandang status mahasiswa dibandingkan dengan mereka yang tidak kuliah. Kampus berbeda dengan sekolah tingkat menengah ke bawah dimana perbedaan itu salah satu yang urgent adalah cara belajar mereka yang lebih koherensif, lebih tinggi dan lebih spesifik. Selain itu terdapatnya beberapa banyak macam oraganisasi yang tidak hanya menunjang keilmuan yang beragam melainkan lebih dari itu sebagai indikator suasana hangat akan intelektual di kampus.

Makanya kesempatan dalam berorganisasi bagi mahasiswa baru merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mengembangkan keilmuannya. Organisasi sendiri hanyalah sebagai alat untuk mengembangkan wawasan sekaligus pengalaman sebagai manifestasi menjadi leadership pemimpin yang bukan hanya untuk memimpin diri sendiri melainkan tanggung jawab kepada masyarakat membuat perubahan baik. Sebab mahasiswa akan turun masyarakan yang membawa amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian. Masing0masing mahasiswa pasti memiliki jiwa-jiwa kepemimpinan, namun tidak semua mahasiswa memiliki kemauan untuk merekontruksi potensi jiwa kepemimpinan yang dimiliki (leadership).

Organisasi hadir sebagai wadah merekontruksi potensi yang dimiliki mahasiswa (leadership-nya) baik meliputi kecerdasan intelektual, emosional, maupun spiritualnya. Karena di dalam organisasi tidak hanya berpola menjadi satu dengan membahas sesuai jurusan mahasiswa masing-masing namun lebih kompleks dari itu. Misalnya di dalam kelas kita berada di prodi Bahasa Indonesia namun di dalam organisasi tidak hanya sebatas belajar seputar prodi bahasa Indonesia melainkan lebih kompleks dari itu (peran dan tanggung jawab). Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kesadaran penting mahasiswa untuk proaktif terhadap kepentingan umat dan bangsa. Karena menjadi mahasiswa sebagai langkah awal besar mengantongi diri dengan nuansa keilmuan dan berkewajiban untuk diimplementasikan.

Organisasi kemahasiswaan ekstra di kampus terdapat beragam macam seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), dan masih banyak lagi organisasi yang belum disebutkan diatas. Semua organisasi yang disebutkan barusan intinya adalah memiliki historis sejarah masing-masing terutama sumbangsih nyata bagi bangsa Indonesia hingga sekarang. Menjadi aktivis di organisasi bukan lantas meninggalkan kewajiban kuliah, namun sebagai bekal tambahan keilmuan bertarung mengasah intelektual terutama ketika aktif belajar di tdalam menggali diri di dalam kelas. Karena di dalam organisasi nantinya akan dilatih bagaimana juga berbicara dengan retorika yang baik, tenang dan tidak gugup di dalam kelas.

Paling penting bagi anak organisasi idak asal berbicara kecuali dengan refrensi, logis, maupun berdasarkan pengalaman-pengalaman secara terstruktur. Lalu jika ada pertanyaan, organisasi apakah yang harus diikuti bagi mahasiswa baru?

Merdeka Atas Pilihan? Mahasiswa Baru Tidak Ikut-Ikutan Memilih Organisasi

Mahasiswa baru tentunya sangat penting selektif memilih organisasi agar mereka memilih tidak sekedar ikut-ikut-an teman atau hasil doktrinan dari senior tetapi karena atas dasar pilihan sendiri sesuai pertimbangan-pertimbangan analisis pengetahuannya, hati nurani, dan selera masing-masing. Karena setiap individu memilih organisasi akan bertanggung jawab tari pilihan dirinya bukan orang lain yang bertanggung jawab atas diri kita meskipun pada esensinya semua organisasi adalah baik. Karena bagi mahasiswa yang resmi dikader setiap organisasi akan memikul amanah besar untuk memperjuangkan tujuan organisasi yang diikuti.

Kecintaan di dalam beroganisasi sangat perlu dimiliki setiap kader baru sebab kecintaan terhadap organisasi yang diikuti akan memberikan dampak yang proaktif memperjuangkan tujuan organisasinya. Rasa cinta dan rasa milik berorganisasi sangat dibutuhkan bagi setiap kader baru apalagi bagi mereka kader yang telah menjadi senior lama.

Tidak jarang bagi anak-anak organisasi mengalami pergulatan konflik terutama konflik internal di organisasi. Tapi itu bukanlah konflik negative dimaksud melainkan konflik positif yang dapat diarahkan membuat sitruman pendewasaan bagi setiap kader guna mengatasi dan memecahkan masalah (problem solving). Dengan demikian tujuan dari organisasi akan selalu termaktub setiap diri kader yang bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri melainkan lebih dari itu terhadap masyarakat adil makmur.Ungkapan Nur Cholis Madjid, “setiap diri kita akan bertanggung jawab terhadap pilihannya”. Selektiflah memilih organisasi karena tidak ada paksaan untuk sebab setiap kaum akademis (mahasiswa) harus merdeka atas pilihannya.

Itulah, Merdeka Atas Pilihan? Mahasiswa Baru Tidak Ikut-Ikutan Memilih Organisasi. Mahasiwa baru berhak atas kebebasan berfikir untuk memilih organisasi. Jangan lagi karena ikut organisasi karena paksaan sehingga proaktif untuk mewujudukan tujuan oganisasi akan dapat dicapai bersama. (hi/yy)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *