Bakiak, Bukan Sandal Biasa

  • Bagikan
Bakiak, Bukan Sendal Biasa
Bakiak, Bukan Sendal Biasa, (Istimewa)

Unews.id. Bakiak, Bukan Sandal Biasa– Sebagian orang mungkin terlihat asing mendengar istilah Bakiak. Benda ini ternyata sandal yang terbuat dari kayu.

Asal kata Bakiak itu sendiri yakni berasal dari Jawa tengah. Namun di Jawa timur dikenal dengan sebutan Bankiak. Ada pula yang menyebut dengan dengan sebutan Taromopa.

Tidak banyak orang tahu asal muasal sandal yang terbuat dari kayu ini. Bakiak berasal dari Tiongkok dan dipakai oleh bangsawan wanita sejak zaman Dinasti Han, sebelumnya pada abad 2 sebelum Masehi, disebutnya dengan sebutan Mu-ju, dalam dialek Hokkian menjadi  Bak-kia.

Bakiak, Bukan Sandal Biasa

Mu-ju ini bersama kebudayaan Tionghoa lainnya tersebar ke Korea, Jepang dan Indonesia. Sesampainya di Bumi Nusantara, Mu-ju berganti nama sesuai dengan daerah masing-masing.

Bakiak, Bukan Sandal Biasa

Pada awal kemunculannya di Indonesia, Bakiak dikenal sebagai sendal khas kerajaan dengan bermacam motif dan ornamen bunga-bunga, ukiran, terlihat unik dan estetik.

Jika di masa itu telah dipakai keluarga kerajaan, kemungkinan Bakiak merupakan barang mahal dan mewah.

Selain unik, alas kaki dari kayu ini nampak lebih indah di kaki pengguna, apabila ditambah motif dan ornamen sesuai kesukaan, seperti ukiran, pahatan serta cat menarik lainnya.

Baca Juga: Macam-macam Beasiswa, Pelajar Wajib Baca (!)

Bentuk Bakiak sendiri sedikit mirip dengan sepatu high heels, agak tinggi bagian tumitnya namun tidak terlalu menukik sebagaimana high heels sendiri.

Biasanya, Bakiak memiliki selempang menyamping dari pinggir. Ada pula serupa sendal jepit. Beragam motif bisa ditemukan sesuai selera.

Dibumi Indonesia, pusat pengrajin Bakiak berkualitas bagus antara lain, Kawasan wisata religi Sunan Ampel, Surabaya, Jepara Jawa tengah sebagai salah satu  pusat ukir kayu terbaik di Indonesia.

Baca Juga: Simbol Kesantrian dari Sukarno

Saat ini, Bakiak sudah mulai kurang diminati bahkan sama sekali tidak ada yang mengenakannya.

Masyarakat banyak menganggapnya sebagai barang kuno. Namun, sesuai penelusuran redaksi, di Indonesia secara umum, masih ada kalangan yang tetap menggunakan bakiak dalam kesehariannya.

Cukup umum digunakan kiai, dan para santri. Mereka mencoba mempertahankan dan melestarikan sandal bakiak.

Uniknya lagi, bakiak dirasa bisa membuang kewaswasan saat para Kiai dan santri melakukan proses bersuci seperti membasuh kaki, menjauhi najis ketika berjalan diatas genangan air.

Biasanya air sulit menyentuh telapak kaki secara langsung dengan diameter tinggi saat menggunakan bakiak

Para pemuda millenial harus mampu mempertahankan salah satu ragam seni yang sudah ada sejak jaman dulu, meski tidak murni lahir dari Indonesia.

Sejak dulu nenek moyang kita memiliki rasa kesadaran tinggi untuk menumbuhkan kresai mereka di bidang seni pahat dan seni ukir

Tugas kita saat ini cukup belajar banyak tentang sejarah kesenian yang ada di Indonesia. Semoga infomasi ini bermanfaat bagi kita semua.(Af//Yy)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *